Membangun Keamanan Jaringan Komputer Dengan Sistem De-Militarised Zone (DMZ)
De-Militarised
Zone(DMZ) merupakan mekanisme untuk melindungi sistem internal dari
serangan hacker atau pihak-pihak lain yang ingin memasuki sistem tanpa
mempunyai hak akses. Sehingga karena DMZ dapat diakses oleh pengguna
yang tidak mempunyai hak, maka DMZ tidak mengandung rule. .Secara
esensial, DMZ melakukan perpindahan semua layanan suatu jaringan ke
jaringan lain yang berbeda. DMZ terdiri dari semua port terbuka, yang
dapat dilihat oleh pihak luar. Sehingga jika hacker menyerang dan
melakukan cracking pada server yang mempunyai DMZ, maka hacker tersebut
hanya dapat mengakses host yang berada pada DMZ, tidak pada jaringan
internal. Misalnya jika seorang pengguna bekerja di atas server FTP
pada jaringan terbuka untuk melakukan akses publik seperti akses
internet, maka hacker dapat melakukan cracking pada server FTP dengan
memanfaatkan layanan Network Interconnection System (NIS), dan Network
File System (NFS). Sehingga hacker tersebut dapat mengakses seluruh
sumber daya jaringan, atau jika tidak, akses jaringan dapat dilakukan
dengan sedikit upaya, yaitu dengan menangkap paket yang beredar di
jaringan, atau dengan metoda yang lain. Namun dengan menggunakan lokasi
server FTP yang berbeda, maka hacker hanya dapat mengakses DMZ tanpa
mempengaruhi sumber daya jaringan yang lain. Selain itu dengan melakukan
pemotongan jalur komunikasi pada jaringan internal, trojan dan
sejenisnya tidak dapat lagi memasuki jaringan.Makalah ini akan membahas
bagaimana memberi hak pada pengguna baik internal maupun eksternal, pada
semua layanan jaringan yang diperlukan.
DMZ adalah suatu area bagi hackers yang
digunakan untuk melindungi system internal yang berhubungan dengan
serangan hacker (hack attack). DMZ bekerja pada seluruh dasar pelayanan
jaringan yang membutuhkan akses terhadap jaringan “ Internet atau dunia
luar” ke bagian jaringan yang lainnya. Dengan begitu, seluruh “open
port” yang berhubungan dengan dunia luar akan berada pada jaringan,
sehingga jika seorang hacker melakukan serangan dan melakukan crack pada
server yang menggunakan sistem DMZ, hacker tersebut hanya akan dapat
mengakses hostnya saja, tidak pada jaringan internal. Secara umum DMZ
dibangun berdasarkan tiga buah konsep, yaitu: NAT (Network Address
Translation), PAT (Port Addressable Translation), dan Access List. NAT
berfungsi untuk menunjukkan kembali paket-paket yang datang dari “real
address” ke alamat internal. Misal : jika kita memiliki “real address”
202.8.90.100, kita dapat membentuk suatu NAT langsung secara otomatis
pada data-data yang datang ke 192.168.100.4 (sebuah alamat jaringan
internal). Kemudian PAT berfungsi untuk menunjukan data yang datang pada
particular port, atau range sebuah port dan protocol (TCP/UDP atau
lainnya) dan alamat IP ke sebuah particular port atau range sebuah port
ke sebuah alamat internal IP. Sedangkan access list berfungsi untuk
mengontrol secara tepat apa yang datang dan keluar dari jaringan dalam
suatu pertanyaan. Misal : kita dapat menolak atau memperbolehkan semua
ICMP yang datang ke seluruh alamat IP kecuali untuk sebuah ICMP yang
tidak diinginkan.
Network Address Translation(NAT)
berfungsi untuk mengarahkan alamat riil, seperti alamat internet, ke
bentuk alamat internal. Misalnya alamat riil 202.8.90.100 dapat
diarahkan ke bentuk alamat jaringan internal 192.168.0.1 secara otomatis
dengan menggunakan NAT. Namun jika semua informasi secara otomatis
ditranslasi ke bentuk alamat internal, maka tidak ada lagi kendali
terhadap informasi yang masuk. Oleh karena itu maka muncullah PAT.
Port Address Translation(PAT) berfungsi
untuk mengarahkan data yang masuk melalui port, sekumpulan port dan
protokol, serta alamat IP pada port atau sekumpulan post. Sehingga dapat
dilakukan kendali ketat pada setiap data yang mengalir dari dan ke
jaringan.
Daftar Akses melakukan layanan pada
pengguna agar dapat mengendalikan data jaringan. Daftar Akses dapat
menolak atau menerima akses dengan berdasar pada alamat IP, alamat IP
tujuan, dan tipe protokol.
Kesimpulan
DMZ adalah suatu area bagi hackers yang
digunakan untuk melindungi system internal yang berhubungan dengan
serangan hacker (hack attack). DMZ bekerja pada seluruh dasar pelayanan
jaringan yang membutuhkan akses terhadap jaringan “ Internet atau dunia
luar” ke bagian jaringan yang lainnya. Dengan begitu, seluruh “open
port” yang berhubungan dengan dunia luar akan berada pada jaringan,
sehingga jika seorang hacker melakukan serangan dan melakukan crack pada
server yang menggunakan sistem DMZ, hacker tersebut hanya akan dapat
mengakses hostnya saja, tidak pada jaringan internal. Secara umum DMZ
dibangun berdasarkan tiga buah konsep, yaitu: NAT (Network Address
Translation), PAT (Port Addressable Translation), dan Access List. NAT
berfungsi untuk menunjukkan kembali paket-paket yang datang dari “real
address” ke alamat internal. Misal : jika kita memiliki “real address”
202.8.90.100, kita dapat membentuk suatu NAT langsung secara otomatis
pada data-data yang datang ke 192.168.100.4 (sebuah alamat jaringan
internal). Kemudian PAT berfungsi untuk menunjukan data yang datang pada
particular port, atau range sebuah port dan protocol (TCP/UDP atau
lainnya) dan alamat IP ke sebuah particular port atau range sebuah port
ke sebuah alamat internal IP. Sedangkan access list berfungsi untuk
mengontrol secara tepat apa yang datang dan keluar dari jaringan dalam
suatu pertanyaan. Misal : kita dapat menolak atau memperbolehkan semua
ICMP yang datang ke seluruh alamat IP kecuali untuk sebuah ICMP yang
tidak diinginkan.
Untuk mencapai suatu keamanan suatu
jaringan komputer yang optimal diperlukan suatu koordinasi antara
pengguna dan Administrator serta aturan/rule atau otorisasi dalam
penggunaan jaringan tsb . Dilain pihak agar diupayakan adanya update
software secara berkala serta menyesuaikan hardwarenya dengan
perkembangan teknologi terbaru.
Sumber : http://www.esaunggul.ac.id/article/membangun-keamanan-jaringan-komputer-dengan-sistem-de-militarised-zone-dmz/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar